BAB 2 PART III
Pergeseran Paradigma Keuangan Mikro : DARI PENYAMPAIAN SUBSIDI KREDIT SAMPAI JASA KEUANGAN KOMERSIAL
Pergeseran Paradigma Keuangan Mikro : DARI PENYAMPAIAN SUBSIDI KREDIT SAMPAI JASA KEUANGAN KOMERSIAL
Prinsip Dasar
Operasional
Tingkat pembayaran kembali sangat
tinggi dalam semua program keuangan mikro yang sepenuhnya berkelanjutan. Namun
ini secara relatif adalah fenoimena baru dalam keuangan mikro institusional.
Sebelum metode kredit mikro baru dikembangkan pada tahun 1970an, pembayaran
kredit sering kali sukar diperoleh dari lembaga kredit mikro – sebagaimana msih
demikian dibanyak lembaga yang menyediakan subsidi kredit untuk debitur
sasaran.
Tingkat tunggakan yang tinggi dalam
keuangan mikro seringkali dipersalahkan pada cuaca, infrastruktur pasar yang
buruk, resesi ekonomi, kebiasaan bisnis yang kurang baik, atau salah penggunaan
dana kredit oleh nasabah untuk kegiatan konsumsi, dari pada tujuan pengguna
sesungguhnya, banyak program kredit usaha mikro modern membuktikan ketidakbenaran
penjelasan ini dengan menunjukkan bahwa pembayaran kembali pada dasarnya
menggunakan semua faktor didalam kendali pemberi kredit, seperti dapat
dipercaya dan kualitas pelayana kredit, pemberitahuan harapan pembayaran
kembali yang jelas, efisiensi administrasi, dan pengembangan hubungan erat
hampir secara pribadi dengan nasabah.
Lembaga keuangan mikro
menguntungkan telah belajar banyak mengenai pemberian kredit dari pemberi
pinjaman (Christen 1989,1997a). Mereka telah menyesuaikan banyak teknik pemberi
pinjaman untuk penggunaan sendiri terutama metodologi meminjamkan berdasarkan
watak yang lebih banyak mengandalkannpada kemauan debitur untuk membayar
kembali kredit daripada pada anggunan kredit atau penilaian kalayakan proyek.
Debitur baru memulai dengan kredit kecil dan meningkat kepada kredit yang lebih
besar setelah mereka membuktikan kemampuan untuk membayar kembali dan kemauan
untuk melakukannya.
Didalam program keuangan mikro yang
berhasil baik, debitur membayar kembali sebagian karena metodologi kredit dari
lembaga (yang menekankan pada kesederhanaan, efisiensi, dan kualitas
pembayaran), sebagian karena kelompok sebaya dan tekanan sosial lainnya,
sebagian karena inisiatif pembayaran kembali, dan sebagian lagi karena kegiatan
penagihan oleh karyawan lembaga – namun terutama membuka peluang untuk meminjam
lagi yang mereka anggap sebagai syarat yang menguntungkan. Oleh karena lembaga
komersial menguntungkan biasanya dapat menghimpun tabungan lokal atau modal
pengungkitan (leverage capital) ketika
dibutuhkan, debitur memahami bahwa kemampuan mereka untuk meminjam lagi
didasarka pada kinerja mereka sendiri, bukan pada faktor eksternal. Ini banyak
memberikan kontribusi pada tingkat pembayaran kembali kredit kepada lembaga.
Pada sisi simpanan, dengan menganggap
bahwa peraturan dan pengawasan umum adalah layak, bahwa inflasi tinggi sekali
dan kekacauan politik terus tidak ada dan bahwa penduduk daerah tersebut tidak
terlalu jarang atau melarat, tabungan sukarela barangkali dapat dihimpun secara
efektif-biaya di tingkat lokal. Pengerahan tabungan lokal dapat bekerja baik
kalau karyawan yang ditawarkan memenuhi kebutuhan nasabah akan keamanan,
kenyamanan, likuiditas, kerahasiaan, dan keuntungan; dan kalau lembaga memiliki
sistem pengendalian internal, sistem informasi manajemen dan manajemen kas yang
baik dan efektif.
Kantor keuangan mikro yang
memilikimkelebihan likuiditas menyetor dana kekantor pusat lembaga mereka dan
memperoleh bunga; kantor cabang yang kekurangan dana meminjam dari kantor pusat
lembaga dan membayar bunga. Intermediasi finansial, dengan mekanisme transfer price seperti itu, memungkinkan
dipenuhinya permintaan banyak penabung dan debitur yang layak diberikan kredit,
tanpa rasio loan-to-deposit (LDR)
kantor cabang.
Perinsip dasar bagi kredit dan
pengerahan tabungan dalam program keuangan mikro komersial didasari dua jenis
upaya yaitu konsep konsep dan keuntungan bersama. Disisi kredit, lembaga harus
mempercayai debitur. Disisi simpanan, nasabah harus mempercayai lembaga.
Didalam lembaga keuangan mikro terbaik, nasabah meraup keuntungan melalaui bertambahnya pedapatan dan kepercayaan lebih besar pada diri sendiri, dan mereka mengganti dengan kesetiaan institusional. Lembaga mengambil manfaat dalam laba, reputasi, dan kelangsungan hidup jangka panjang. Maka paradigma batu adalah hal yang membawa kepada lembaga keuangan mikro yang berkelanjutan secara keuangan dengan tingkat jangkauan luas.
Didalam lembaga keuangan mikro terbaik, nasabah meraup keuntungan melalaui bertambahnya pedapatan dan kepercayaan lebih besar pada diri sendiri, dan mereka mengganti dengan kesetiaan institusional. Lembaga mengambil manfaat dalam laba, reputasi, dan kelangsungan hidup jangka panjang. Maka paradigma batu adalah hal yang membawa kepada lembaga keuangan mikro yang berkelanjutan secara keuangan dengan tingkat jangkauan luas.
“Oleh karena lembaga komersial
menguntungkan biasanya dapat menghimpun tabungan lokal atau modal pengungkitan
(leverage capital) ketika dibutuhkan, maka debitur memahami bahwa kemampuan
mereka untuk meminjam lagi didasarkan pada kinerja mereka sendiri, bukan pada
faktor eksternal”
Kebijakan dan
kebiasaan yang dianut berdasarkan paradigma lama
·
Kelayakan kredit
Program subsidi kredit berdasarka persediaan dan sesuai
arahan untuk membantu masyarakat miskin.
·
Kemauan dan kapasitas menabung
Pola 1 : Layanan lembaga tabungan sukarela tidak disediakan atau efektif; tabungan tidak dapat membiayai portofolio kredit.
Pola 2 : Layanan tabungan sukarela disediakan namun penyediaan kredit kurang efektif; gagal bayar dan kredit macet tinggi. Lembaga cendrung mendepositokan atau meninvestasikan tabungan; hanya sedikit kredit mikro yang disediakan.
Pola 1 : Layanan lembaga tabungan sukarela tidak disediakan atau efektif; tabungan tidak dapat membiayai portofolio kredit.
Pola 2 : Layanan tabungan sukarela disediakan namun penyediaan kredit kurang efektif; gagal bayar dan kredit macet tinggi. Lembaga cendrung mendepositokan atau meninvestasikan tabungan; hanya sedikit kredit mikro yang disediakan.
·
Kebutuhan akan bantuan teknis
program pelatihan dalam pembiayaan atau bisnis dibutuhkan bagi mereka yang menginginkan pinjaman institusional. Program pelatiahan tambahan dalam melek huruf, kesehatan dan keterampilan mungkin dibutuhkan.
program pelatihan dalam pembiayaan atau bisnis dibutuhkan bagi mereka yang menginginkan pinjaman institusional. Program pelatiahan tambahan dalam melek huruf, kesehatan dan keterampilan mungkin dibutuhkan.
Kebijakan dan
kebiasaan yang dianut berdasarkan paradigma baru
·
Kelayakan kredit
Kredit mikro ditetapkan harga pada tingkat yang memungkinkan lembaga menutup seluruh biaya dan menghasilkan laba. Modal kerja jangka pendek dengan prosedur sederhana dan insentif pembayaran kembali yang sudah termasuk ditekankan.
Kredit mikro ditetapkan harga pada tingkat yang memungkinkan lembaga menutup seluruh biaya dan menghasilkan laba. Modal kerja jangka pendek dengan prosedur sederhana dan insentif pembayaran kembali yang sudah termasuk ditekankan.
·
Kemauan dan kapasitas menabung
Instrumen-instrumen sukarela menyediakan keamanan, kenyamanan, likuiditas, kerahasiaan, dan keuntungan. Spread antara bunga pinjaman dengan biaya dana ditetapkan untuk memungkinkan keberlanjutan institusional.
Instrumen-instrumen sukarela menyediakan keamanan, kenyamanan, likuiditas, kerahasiaan, dan keuntungan. Spread antara bunga pinjaman dengan biaya dana ditetapkan untuk memungkinkan keberlanjutan institusional.
·
Kebutuhan akan bantuan teknis
Pemerintah dan donor semakin memperhatikan penyediaan
suatu lingkungan dan penyebaran informasi yang memungkinkan mengenal best
practice dalam keuangan mikro komersial, daripada menyediakan pendanaan terus
menerus bagi portofolio kredit .
“Hasil paradigma
baru: Lembaga berkelanjutan secara keuangan dengan jangkauan keuangan mikro
yang luas.”
Memenuhi Permintaan Keuangan Mikro
Revolusi keuanagn mikro berakar dalam paradigma baru.
Penekanan adlah pada kemandirian banyak lembaga yang saling bersaing sebagai
satu-satunya jalan menuju pemenuhan permintaan keuangan mikro. Sebagai
penjelasan pendekatan komersial, jangkauan nasabah pada sistem perbankan mikro
BRI dibawah dibandingkan dengan jangkauan bebearapa jenis lembaga keuangan
mikro. Ini adalah database handal terbesar yang dapat ditemukan untuk
perbandingan seperti itu. Data BRI telah dipilih untuk dibandingkan dengan data
lembaga lain yang ada.
Jangkauan: Siatem BRI unit desa dibandingkan dengan 140 LSM
dinegara berkembang, 1995
|
Sistem
|
Jumlah
Lembaga
|
Jumlah
kredit outstanding
|
Nilai
kredit outstanding (jutaan dolar US)
|
Jumlah
rekening tabungan
|
Nilai
tabungan (jutaan dolar US)
|
|
Unit desa
|
1
|
2.263.767
|
1.383
|
14.482.763
|
2.606
|
|
LSM Asia Timur
|
17
|
78.642
|
25,7
|
103.734
|
15,1
|
|
LSM Asia Selatan
|
18
|
200.821
|
51,1
|
305.791
|
25,3
|
|
LSM Afrika
|
40
|
292.048
|
103,6
|
82.769
|
4,0
|
|
LSM Amerika
|
|
|
|
|
|
|
Latin dan Karibia
|
65
|
324.903
|
101,1
|
44.868
|
13,6
|
|
Jumlah LSM di Asia Timur, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin
|
140
|
896.414
|
281,5
|
537.162
|
58,0
|
|
Jumlah (persen) saham gabungan unit desa dan LSM
|
|||||
|
Unit desa
|
|
71,6
|
82,1
|
96,4
|
97,8
|
|
LSM
|
|
28,4
|
16,9
|
3,6
|
2,2
|
Membandingkan jangkauan sistem BRI unit desa mengenai
intermediasi finansial
LSM dan Grameen Bank sebagai penerima hibah dan pinjaman
konsesi dari pemerintah dan donor, menekankan pada kredit mikro; simpanan
mereka sebagian atau mayoritas berasal dari tabungan wajib. BRI unit desa dan
koperasi kredit menjalankan intermediasi finansial – koperasi kredit untuk
anggota, dan BRI untuk umum. Lembaga seperti ini melayani tujuan berbeda
didalam negara dan perekonomian berbeda, dan tidak mudah diperbandingkan.
Pada tahun 1995 disurvey 140 LSM yang secara agregat
mencakup 17 persen jumlah gabungan kredit BRI unit desa da LSM tahun
bersangkutan, dan 28 persen jumlahh kredit outstanding. Pada sisi tabungan, LSM
mencakup 4 persen jumlah rekening tabungan dan 2 persen nilai tabungan dalam
sistem unit desa.
Pada hasil temuan umum bahwa LSM bukan penyedia kredit mikro
dalam skala besar masih bertahan. Data bulan juni 1999 untuk 524 LSM Bangladesh
menunjukkan bahwa ke-3 LSM terbesar itu melayani sebagian besar bisnis keuangan
mikro LSM dan bahwa gabungan 524 LSM memiliki jangkauan jauh lebih kecil
dibandingkan dengan sitem BRI unit desa (Credit and Development Forum
Statistic, vol.8, Juni 1999).
Bila BRI unit desa dibandingkan dengan Grameen Bank untuk
tahun 1995. Inin adlah raksasa keuangan mikro, keduanya di Asia. Keduanya
sangant penting, berkenaan dengan kredit mikro, keduanya telah memberikan
kontribusi pada paradigm yang baru dan
keduanya telah mencapai sekala besar. Namun BRI telah mengembangkan model bagi
keuangan mikro sekala besar yang menguntungkan tanpa subsidi, sedangkan Grameen
Bank belum memiliki sitem keuangan mikro yang berkelanjutan.
“Tabungan wajib sebagai syarat untuk menerima kredit dan menghimpun
tabungan sukarela mencerminkan dua filsafat yang sangat berbeda”
Kedua bank melayani debitur berpenghasilan rendah, meskipun
Grameen Bank menjangkau debitur paling miskin secara langsung, sedangkan BRI
terutama menjangkau mereka melalui BKD.
“BRI unit desa mempunyai return on assets sebelum pajak 6,5 persen pada
tahun 1995. Return assets 0,1% Grameen hanya posotif karena adanya subsidi
besar yang diterima bank”

super sekali !
BalasHapusistanaunik.com