Pages

Ads 468x60px

Senin, 04 Juni 2012

BAB 2 Pergeseran Paradigma Keuangan Mikro

BAB 2 PART  III
Pergeseran Paradigma Keuangan Mikro : DARI PENYAMPAIAN SUBSIDI KREDIT SAMPAI JASA KEUANGAN KOMERSIAL

Prinsip Dasar Operasional
Tingkat pembayaran kembali sangat tinggi dalam semua program keuangan mikro yang sepenuhnya berkelanjutan. Namun ini secara relatif adalah fenoimena baru dalam keuangan mikro institusional. Sebelum metode kredit mikro baru dikembangkan pada tahun 1970an, pembayaran kredit sering kali sukar diperoleh dari lembaga kredit mikro – sebagaimana msih demikian dibanyak lembaga yang menyediakan subsidi kredit untuk debitur sasaran.
Tingkat tunggakan yang tinggi dalam keuangan mikro seringkali dipersalahkan pada cuaca, infrastruktur pasar yang buruk, resesi ekonomi, kebiasaan bisnis yang kurang baik, atau salah penggunaan dana kredit oleh nasabah untuk kegiatan konsumsi, dari pada tujuan pengguna sesungguhnya, banyak program kredit usaha mikro modern membuktikan ketidakbenaran penjelasan ini dengan menunjukkan bahwa pembayaran kembali pada dasarnya menggunakan semua faktor didalam kendali pemberi kredit, seperti dapat dipercaya dan kualitas pelayana kredit, pemberitahuan harapan pembayaran kembali yang jelas, efisiensi administrasi, dan pengembangan hubungan erat hampir secara pribadi dengan nasabah.
Lembaga keuangan mikro menguntungkan telah belajar banyak mengenai pemberian kredit dari pemberi pinjaman (Christen 1989,1997a). Mereka telah menyesuaikan banyak teknik pemberi pinjaman untuk penggunaan sendiri terutama metodologi meminjamkan berdasarkan watak yang lebih banyak mengandalkannpada kemauan debitur untuk membayar kembali kredit daripada pada anggunan kredit atau penilaian kalayakan proyek. Debitur baru memulai dengan kredit kecil dan meningkat kepada kredit yang lebih besar setelah mereka membuktikan kemampuan untuk membayar kembali dan kemauan untuk melakukannya.
Didalam program keuangan mikro yang berhasil baik, debitur membayar kembali sebagian karena metodologi kredit dari lembaga (yang menekankan pada kesederhanaan, efisiensi, dan kualitas pembayaran), sebagian karena kelompok sebaya dan tekanan sosial lainnya, sebagian karena inisiatif pembayaran kembali, dan sebagian lagi karena kegiatan penagihan oleh karyawan lembaga – namun terutama membuka peluang untuk meminjam lagi yang mereka anggap sebagai syarat yang menguntungkan. Oleh karena lembaga komersial menguntungkan biasanya dapat menghimpun tabungan lokal atau modal pengungkitan (leverage capital) ketika dibutuhkan, debitur memahami bahwa kemampuan mereka untuk meminjam lagi didasarka pada kinerja mereka sendiri, bukan pada faktor eksternal. Ini banyak memberikan kontribusi pada tingkat pembayaran kembali kredit kepada lembaga.
Pada sisi simpanan, dengan menganggap bahwa peraturan dan pengawasan umum adalah layak, bahwa inflasi tinggi sekali dan kekacauan politik terus tidak ada dan bahwa penduduk daerah tersebut tidak terlalu jarang atau melarat, tabungan sukarela barangkali dapat dihimpun secara efektif-biaya di tingkat lokal. Pengerahan tabungan lokal dapat bekerja baik kalau karyawan yang ditawarkan memenuhi kebutuhan nasabah akan keamanan, kenyamanan, likuiditas, kerahasiaan, dan keuntungan; dan kalau lembaga memiliki sistem pengendalian internal, sistem informasi manajemen dan manajemen kas yang baik dan efektif.
Kantor keuangan mikro yang memilikimkelebihan likuiditas menyetor dana kekantor pusat lembaga mereka dan memperoleh bunga; kantor cabang yang kekurangan dana meminjam dari kantor pusat lembaga dan membayar bunga. Intermediasi finansial, dengan mekanisme transfer price seperti itu, memungkinkan dipenuhinya permintaan banyak penabung dan debitur yang layak diberikan kredit, tanpa rasio loan-to-deposit (LDR) kantor cabang.
Perinsip dasar bagi kredit dan pengerahan tabungan dalam program keuangan mikro komersial didasari dua jenis upaya yaitu konsep konsep dan keuntungan bersama. Disisi kredit, lembaga harus mempercayai debitur. Disisi simpanan, nasabah harus mempercayai lembaga.
Didalam lembaga keuangan mikro terbaik, nasabah meraup keuntungan melalaui bertambahnya pedapatan dan kepercayaan lebih besar pada diri sendiri, dan mereka mengganti dengan kesetiaan institusional. Lembaga mengambil manfaat dalam laba, reputasi, dan kelangsungan hidup jangka panjang. Maka paradigma batu adalah hal yang membawa kepada lembaga keuangan mikro yang berkelanjutan secara keuangan dengan tingkat jangkauan luas.
“Oleh karena lembaga komersial menguntungkan biasanya dapat menghimpun tabungan lokal atau modal pengungkitan (leverage capital) ketika dibutuhkan, maka debitur memahami bahwa kemampuan mereka untuk meminjam lagi didasarkan pada kinerja mereka sendiri, bukan pada faktor eksternal”

Kebijakan dan kebiasaan yang dianut berdasarkan paradigma lama
·         Kelayakan kredit
Program subsidi kredit berdasarka persediaan dan sesuai arahan untuk membantu masyarakat miskin.
·         Kemauan dan kapasitas menabung
Pola 1 : Layanan lembaga tabungan sukarela tidak disediakan atau efektif; tabungan tidak dapat membiayai portofolio kredit.
Pola 2 : Layanan tabungan sukarela disediakan namun penyediaan kredit kurang efektif; gagal bayar dan kredit macet tinggi. Lembaga cendrung mendepositokan atau meninvestasikan tabungan; hanya sedikit kredit mikro yang disediakan.
·         Kebutuhan akan bantuan teknis
program pelatihan dalam pembiayaan atau bisnis dibutuhkan bagi mereka yang menginginkan pinjaman institusional. Program pelatiahan tambahan dalam melek huruf, kesehatan dan keterampilan mungkin dibutuhkan.

Kebijakan dan kebiasaan yang dianut berdasarkan paradigma baru
·         Kelayakan kredit
Kredit mikro ditetapkan harga pada tingkat yang memungkinkan lembaga menutup seluruh biaya dan menghasilkan laba. Modal kerja jangka pendek dengan prosedur sederhana dan insentif pembayaran kembali yang sudah termasuk ditekankan.
·         Kemauan dan kapasitas menabung
Instrumen-instrumen sukarela menyediakan keamanan, kenyamanan, likuiditas, kerahasiaan, dan keuntungan. Spread antara bunga pinjaman dengan biaya dana ditetapkan untuk memungkinkan keberlanjutan institusional.
·         Kebutuhan akan bantuan teknis
Pemerintah dan donor semakin memperhatikan penyediaan suatu lingkungan dan penyebaran informasi yang memungkinkan mengenal best practice dalam keuangan mikro komersial, daripada menyediakan pendanaan terus menerus bagi portofolio kredit .

“Hasil paradigma baru: Lembaga berkelanjutan secara keuangan dengan jangkauan keuangan mikro yang luas.”

Memenuhi Permintaan Keuangan Mikro

Revolusi keuanagn mikro berakar dalam paradigma baru. Penekanan adlah pada kemandirian banyak lembaga yang saling bersaing sebagai satu-satunya jalan menuju pemenuhan permintaan keuangan mikro. Sebagai penjelasan pendekatan komersial, jangkauan nasabah pada sistem perbankan mikro BRI dibawah dibandingkan dengan jangkauan bebearapa jenis lembaga keuangan mikro. Ini adalah database handal terbesar yang dapat ditemukan untuk perbandingan seperti itu. Data BRI telah dipilih untuk dibandingkan dengan data lembaga lain yang ada.

Jangkauan: Siatem BRI unit desa dibandingkan dengan 140 LSM dinegara berkembang, 1995
Sistem
Jumlah Lembaga
Jumlah kredit outstanding
Nilai kredit outstanding (jutaan dolar US)
Jumlah rekening tabungan
Nilai tabungan (jutaan dolar US)
Unit desa
1
2.263.767
1.383
14.482.763
2.606
LSM Asia Timur
17
78.642
25,7
103.734
15,1
LSM Asia Selatan
18
200.821
51,1
305.791
25,3
LSM Afrika
40
292.048
103,6
82.769
4,0
LSM Amerika





Latin dan Karibia
65
324.903
101,1
44.868
13,6
Jumlah LSM di Asia Timur, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika Latin
140
896.414
281,5
537.162
58,0
Jumlah (persen) saham gabungan unit desa dan LSM
Unit desa

71,6
82,1
96,4
97,8
LSM

28,4
16,9
3,6
2,2

Membandingkan jangkauan sistem BRI unit desa mengenai intermediasi finansial 

LSM dan Grameen Bank sebagai penerima hibah dan pinjaman konsesi dari pemerintah dan donor, menekankan pada kredit mikro; simpanan mereka sebagian atau mayoritas berasal dari tabungan wajib. BRI unit desa dan koperasi kredit menjalankan intermediasi finansial – koperasi kredit untuk anggota, dan BRI untuk umum. Lembaga seperti ini melayani tujuan berbeda didalam negara dan perekonomian berbeda, dan tidak mudah diperbandingkan.

Pada tahun 1995 disurvey 140 LSM yang secara agregat mencakup 17 persen jumlah gabungan kredit BRI unit desa da LSM tahun bersangkutan, dan 28 persen jumlahh kredit outstanding. Pada sisi tabungan, LSM mencakup 4 persen jumlah rekening tabungan dan 2 persen nilai tabungan dalam sistem unit desa.

Pada hasil temuan umum bahwa LSM bukan penyedia kredit mikro dalam skala besar masih bertahan. Data bulan juni 1999 untuk 524 LSM Bangladesh menunjukkan bahwa ke-3 LSM terbesar itu melayani sebagian besar bisnis keuangan mikro LSM dan bahwa gabungan 524 LSM memiliki jangkauan jauh lebih kecil dibandingkan dengan sitem BRI unit desa (Credit and Development Forum Statistic, vol.8, Juni 1999).

Bila BRI unit desa dibandingkan dengan Grameen Bank untuk tahun 1995. Inin adlah raksasa keuangan mikro, keduanya di Asia. Keduanya sangant penting, berkenaan dengan kredit mikro, keduanya telah memberikan kontribusi  pada paradigm yang baru dan keduanya telah mencapai sekala besar. Namun BRI telah mengembangkan model bagi keuangan mikro sekala besar yang menguntungkan tanpa subsidi, sedangkan Grameen Bank belum memiliki sitem keuangan mikro yang berkelanjutan.

“Tabungan wajib sebagai syarat untuk menerima kredit dan menghimpun tabungan sukarela mencerminkan dua filsafat yang sangat berbeda”

Kedua bank melayani debitur berpenghasilan rendah, meskipun Grameen Bank menjangkau debitur paling miskin secara langsung, sedangkan BRI terutama menjangkau mereka melalui BKD.

“BRI unit desa mempunyai return on assets sebelum pajak 6,5 persen pada tahun 1995. Return assets 0,1% Grameen hanya posotif karena adanya subsidi besar yang diterima bank”

1 komentar:

 

Sample text

Sample Text

Sample Text